presentasi sidang fix

download presentasi sidang fix

of 36

  • date post

    24-Jan-2017
  • Category

    Documents

  • view

    17
  • download

    3

Embed Size (px)

Transcript of presentasi sidang fix

  • Nilai Humanis Dalam Lakon Mahabharata (Analisis Resepsi Anak Muda Terhadap Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari)Humanism in Mahabharata Story (Young People Reception of The Sriwedari Puppet Dance Performing Art)

    Hilda Anggraini12/328723/SP/25098

  • BAB I : PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang1.2 Rumusan Masalah1.3 Tujuan Penelitian1.4 Manfaat Penelitian1.5 Kerangka Pemikiran1.5.1 Audiens dalam Proses Komunikasi1.5.2 Anak Muda Sebagai Audiens1.5.3 Penyampaian dan Penerimaan Pesan1.5.4 Seni Pertunjukan Wayang Orang1.6 Kerangka Konsep1.6.1 Pesan Dalam Lakon Wayang Orang Sriwedari Solo1.6.2 Encoding Decoding dalam Lakon Mahabharata Wayang Orang Sriwedari Solo Oleh Anak Muda

  • 1.7 Metodologi Penelitian1.7.1 Teknik Pengumpulan Data 1.7.2 Teknik Analisis Data1.7.3 Subjek Penelitian1.7.4 Lokasi Penelitian

    BAB II : DINAMIKA DALAM SENI PERTUNJUKAN WAYANG ORANG2.1 Konsep Audiens Dalam Cultural Studies2.2 Sekilas Tentang Seni Pertunjukan Wayang Orang Gaya Surakarta2.2.1 Secara Historis2.2.2 Secara Struktur Estetika Wayang Orang2.2.3 Proses Produksi Wayang Orang

  • 2.3 Kaum Muda Sebagai Audiens Dalam Pertunjukan Wayang Orang2.4 Decoding Lakon Dalam Pertunjukan Wayang Orang Oleh Audiens2.5 Lakon Mahabharata Bermuatan Nilai Humanis

    BAB III : PROFIL INFORMAN DAN GARIS BESAR PRODUKSI LAKON3.1 Profil Riza Budi Utomo3.2 Profil Gilang Aji Bhaskara3.3 Profil Kristofora Wiwi3.4 Garis Besar Produksi Lakon Wayang Orang Sriwedari Solo dalam Pandangan Sutradara Muda

  • BAB IV : RESEPSI ANAK MUDA TERHADAP NILAI NILAI HUMANIS DALAM LAKON MAHABHARATA4.1 Pandangan Anak Muda Terhadap Wayang Orang Sriwedari Solo4.2 Resepsi Pesan Oleh Anak Muda Terhadap Nilai Nilai Humanis Lakon Mahabharata4.2.1 Pandangan Tentang Cerita Mahabharata Oleh Riza4.2.1.1 Lakon Bima Suci4.2.1.1 Lakon Bhisma Gugur4.2.1.3 Lakon Sumantri Ngenger4.2.1.4 Lakon Gatutkaca Risang4.2.1.6 Nilai Dalam Lakon Bima Suci4.2.1.7 Nilai Dalam Lakon Bhisma Gugur

  • 4.2.1.7 Nilai Dalam Lakon Gatutkaca Risang4.2.1.8 Pemaknaan Riza Terhadap Nilai Nilai Dalam Lakon Mahabharata4.2.1 Pandangan Tentang Cerita Mahabharata Oleh Gilang4.2.2.1 Lakon Perang Bharatayudha Jayabinangun4.2.2.2 Lakon Brajadenta Mbalela4.2.2.2.1 Lakon Yang Berhubungan Dengan Raden Gatutkaca4.2.2.3 Nilai Dalam Lakon Bharatayudha Jayabinangun4.2.2.4 Nilai Dalam Lakon Brajadenta Mbalela4.2.2.5 Pemaknaan Gilang Terhadap Nilai Nilai Dalam Lakon Mahabharata

  • 4.2.3 Pandangan Tentang Cerita Mahabharata Oleh Wiwi4.2.3.1 Lakon Pandawa Dadu4.2.3.2 Lakon Bertema Perempuan 4.2.3.2.1 Lakon Arjuna Sembadra Krama4.2.3.2.2 Lakon Arjuna Srikandi Krama4.2.3.2.3 Lakon Arjuna Kembar 4.2.3.2.4 Penggambaran Sosok Dewi Wara Srikandi Dalam Lakon Srikandi Mustakaweni dan Dewi Wara Sembadra Sebagai Titisan Bathari Sri Widowati4.2.3.3 Nilai Dalam Lakon Pandawa Dadu4.2.3.4 Nilai Dalam Lakon Arjuna Sembadra Krama4.2.3.5 Nilai Dalam Lakon Arjuna Srikandi Krama

  • 4.2.3.6 Nilai Dalam Lakon Arjuna Kembar4.2.3.7 Pemaknaan Wiwi Terhadap Nilai Nilai Dalam Lakon Mahabharata4.3 Analisis Resepsi Anak Muda Berdasarkan Faktor Frame of Reference dan Frame of Experience

    BAB V : PENUTUP 5.1 Kritik5.2 Saran

  • Latar BelakangPenonton menjadi salah satu aspek penting dalam pertunjukan Wayang Orang Sriwedari Solo. Setiap penonton dapat memiliki sudut pandang yang berbeda terhadap lakon lakon yang dipentaskan. Baik lakon Mahabharata maupun lakon Ramayana, keduanya memiliki nilai nlai tertentu yang disampaikan dalam setiap pementasan. Sebagai audiens, berbagai latar belakang pun mempengaruhi sudut pandang mereka untuk memaknai pesan pesan yang disampaikan, termasuk golongan anak muda. Dalam observasi partisipan yang dilakukan peneliti, setiap akhir pekan masih banyak anak muda yang datang untuk menonton pertunjukan. Oleh karena itu, peneliti ingin mengetahui bagaimana sebenarnya sudut pandang anak muda dalam meresepsi nilai nilai dalam suatu lakon, yaitu lakon Mahabharata. Makna yang dihasilkan apakah sama dengan teks atau memiliki perbedaan perbedaan tertentu.

  • Rumusan Masalah Bagaimana Anak Muda Sebagai Audiens Meresepsi Nilai Nilai Humanis Dari Lakon Mahabharata Yang Dipentaskan Oleh Wayang Orang Sriwedari Solo?

  • Tujuan PenelitianMengetahui Bagaimana Anak Muda Sebagai Audiens Meresepsi Nilai Nilai Humanis Dari Lakon Mahabharata Yang Dipentaskan Oleh Wayang Orang Sriwedari Solo.

  • Manfaat Penelitian1. Dapat memberikan kontribusi yang baik dan positif terhadap khazanah keilmuan bidang komunikasi melalui media komunikasi tradisional dalam bentuk seni pertunjukan, khususnya tentang analisis resepsi terhadap pesan dalam suatu lakon wayang orang . 2. Dapat menambah wawasan bagi penulis tentang wayang orang sebagai kebudayaan asli bangsa Indonesia, terutama mengenai perspektif dari generasi muda terhadap keberadaan wayang orang.3. Ikut serta melestarikan seni pertunjukan wayang orang, terutama Wayang Orang Sriwedari Solo, agar terus bertahan mengikuti perkembangan zaman.

  • Kerangka Pemikiran1. Audiens Dalam Proses Komunikasi2. Anak Muda Sebagai Audiens3. Penyampaian dan Penerimaan Pesan4. Seni Pertunjukan Wayang Orang

  • Kerangka Konsep 1. Pesan dalam Lakon Wayang Orang Sriwedari Solo2. Penerimaan Pesan (encoding - decoding) dalam Lakon Yang Dipentaskan Wayang Orang Sriwedari Solo Oleh Anak Muda

  • Metodologi PenelitianSecara garis besar, dalam analisis resepsi, makna teks bukan terletak pada teks itu sendiri. Khalayak, dalam hal ini merupakan anak muda, tidak menemukan makna dalam teks tetapi dalam proses pementasan wayang orang. Analisis resepsi juga melibatkan faktor kontekstual yang mempengaruhi pemaknaan khalayak terhadap teks media, seperti identitas, latar belakang sosial, dan persepsi

  • Informan1. Riza Budi UtomoRiza merupakan mahasiswa jurusan TV dan Film ISI Surakarta. Pria berusia 24 tahun ini memang menyukai seni pertunjukan wayang orang sejak kecil. Tidak hanya itu, Riza juga berusaha memahami simbol simbol dan filosofi dalam seni pertunjukan wayang orang yang menurutnya sangat dekat dengan masyarakat Jawa2. Gilang Aji BhaskaraGilang merupakan siswa SMP Negeri 5 Surakarta. Remaja lelaki berusia 13 tahun ini menyukai seni pertunjukan wayang orang sejak duduk di kelas 4 SD. Kecintaannya dengan dunia wayang orang, membuat Gilang selalu mendokumentasikan lakon lakon yang dipentaskan Wayang Orang Sriwedari Solo dalam bentuk foto dan video sebagai arsip pribadinya.

  • 3. Kristofora WiwiWiwi merupakan mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Maranatha Bandung. Perempuan berusia 19 tahun ini selalu menyempatkan untuk menonton pertunjukan Wayang Orang Sriwedari Solo meskipun tidak tinggal di Kota Solo. Tidak hanya menjadi penikmat, Wiwi juga berusaha mempelajari gerakan gerakan pada wayang orang serta karakter karakter dalam dunia wayang.4. Benedictus Billy Aldhi K, Sutradara Muda Wayang Orang Sriwedari SoloMas Billy merupakan salah satu tenaga kerja kontrak Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Solo yang di daulat menjadi sutradara muda Wayang Orang Sriwedari Solo. Laki laki berusia 20 tahun ini, mendedikasikan dirinya sebagai pemain Wayang Orang Sriwedari Solo sejak duduk di bangku SD. Bahkan pada tahun 2000-an, Mas Billy dinobatkan sebagai pemain wayang orang termuda di Indonesia. Baru setelah duduk di bangku kuliah, Mas Billy didaulat untuk menjadi sutradara muda Wayang Orang Sriwedari Solo.

  • Hasil Penelitian dan PembahasanPandangan Informan Tentang Wayang Orang Sriwedari

    InformanPenilaianUraian PenilaianRizaKemunduranJalan di TempatKualitas seni pertunjukan yang berkurang karena sudah tidak adanya lagi efek efek pendukung pertunjukanLCD yang tidak berfungsi optimal- Sound system terkadang bermasalah Wiwi Kemajuan- Semakin meningkatnya penonton dalam mengapresiasi Wayang Orang Sriweadari SoloGilangKemajuan- Seni karawitan dan seni tarinya bagus

  • Pemaknaan Riza Terhadap Nilai Nilai Humanis Dalam Lakon Mahabharata

    InformanLakonIntisari LakonNilai Humanis Pada Lakon MahabharataDecoding AudiensPosisi AudiensRizaBima Suci Upaya Raden Werkudara dalam mencari Tirta Perwitasari dimana ditengah tengah samudera dia berteu dengan Dewa Ruci sebagai lambang manunggaling kawulaning gusti. Kebenaran akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, sumber yang menggerakan seluruh alam semestaKedamaian yang harus dicapai oleh semua umat manusia dengan cara menyatu dengan Yang Maha Kuasa1. Nilai spiritual masyarakat Jawa untuk selalu dekat dengan TuhannyaDominant hegemonic reading

  • RizaBhisma GugurPerang diantara Resi Bhisma melawan Dewi Wara Srikandi yang dimenangkan oleh Dewi Wara Srikandi karena Resi Bhisma berjanji untuk tidak pernah menyakiti perempuan. Disamping itu, Resi Bhisma juga menginginkan kedamaian untuk dirinya dan melepaskan sumpahnya karena tidak tahan melihat kejahatan yang terus menerusKebajikan Resi Bhisma yang selalu menepati janjinya, meskipun dia harus berada di pihak yang salah.Kedamaian yang dipilih oleh Resi Bhisma untuk dirinya sendiri dengan memilih mati karena merasa telah cukup usianya untuk menjaga Kerajaan AstinapuraKepahlawanan Resi Bhisma untuk sellau menepati janjinya, meskipun ia harus berpihat pada KurawaTidak selamanya orang itu kuat, pada suatu saat dia juga bisa menjadi lemah hatinyaPengorbanan Resi Bhisma untuk mengalah karena rasa kasihnya terhadap Dewi Amba yang menitis menjadi Dewi Wara SrikandiOppositional reading

  • RizaGatutkaca RisangRingkasan kisah kelahiran Raden Gatutkaca hingga kematiannya dalam Perang Bharatayudha yang tertusuk senjata Kunta milik Adipati Karna. Namun adegan menarik disini adalah ketika Raden Gatutkaca yang sedang sangat marah tidak sengaja membunuh pamannya sendiri yaitu Raden Kalabendana.Kepahlawanan Raden Gatutkaca semasa hidupnya Kasih sayang Raden Gatutkaca terhadap saudara saudaranyaKebajikan yang dilak